Ikhsan menambahkan, berpijak dari premis awal itu, pertunjukan sengaja didesain agar tidak mengarah ke budaya, histori, atau tradisi apapun. Hal itu ditujukan agar tendensi kultural bisa dilepaskan dengan sengaja dari eksplorasi formal, agar bisa mereproduksi makna yang baru.
“Sedangkan ide karya difokuskan pada dominasi simbolik yang terjadi di sepanjang dan sekitar jalur rempah,” kata Ikhsan.
Sedangkan koreografer/penata gerak Teater Senyawa Curup, Pratama Rezki Wijaya menyebut bahwa pertunjukan ini memang didesain agar difokuskan pada tekstur pertunjukan. Oleh karena itu, media utama sebagai kendaraan penyampai makna di karya ini adalah relasi antar peristiwa.
“Proses penggarapan difokuskan pada penyusunan tekstur pertunjukan, karena penyampai makna yang utama di pertunjukan ini ialah relasi antar peristiwa,” terang Rezki.
Rezki juga menyampaikan bahwa teknik yang diadopsi untuk pertunjukan ini ialah teater epik ala Bertold Brecth demi mencapai efek alienasi. Karena itu, selain susunan gerak dan tekstur pertunjukan, juga ada tokoh narator yang dihadirkan untuk mematahkan atau merusak latar ruang dan waktu pertunjukan.










