“Visi jangka panjang kami adalah mengekspor kopi robusta dari Rejang Lebong secara massal. Kami sedang membangun ekosistem bisnis yang saling terkait antara petani, supplier, dan trader untuk memastikan keadilan ekonomi dalam rantai produksi,” jelas Benny.
Meskipun banyak pencapaian yang diraih, Benny menyadari masih ada tantangan, terutama kurangnya dukungan dari pemerintah daerah. Banyak petani kopi di Rejang Lebong yang berkebun di lahan hutan dengan izin akses 35 tahun, tetapi dukungan pasca-izin dianggap belum optimal.
Benny berharap pemerintah lebih aktif mendukung pengembangan industri kopi, termasuk membangun pabrik pengolahan kopi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mendukung ekspor. “Kami juga berharap ada dukungan untuk membangun industri kecil di desa-desa agar kualitas kopi lebih seragam,” tutup Benny. (rno)







