Menurutnya, kebijakan tersebut muncul karena pengelolaan pemandian air panas kini dilakukan secara mandiri dan tidak lagi berada dalam satu manajemen dengan pengelola kawasan air terjun.
“Bisa dibilang ada wisata di dalam wisata. Jadi sistem pembayarannya berbeda. Ini bukan keputusan kami, tetapi kebijakan dari pengelola pemandian air panas,” ujarnya.
Riyan juga membantah tudingan bahwa pengelola kurang memberikan pelayanan kepada pengunjung. Ia menegaskan bahwa kenyamanan dan keselamatan wisatawan tetap menjadi prioritas utama.
“Kami tidak pernah meninggalkan pengunjung sendirian di lokasi. Selama ini petugas selalu memastikan seluruh wisatawan sudah kembali sebelum meninggalkan kawasan wisata,” katanya.
Ia mengaku petugas kerap membantu pengunjung yang mengalami kendala selama berada di lokasi, termasuk kendaraan yang mengalami kerusakan maupun kehabisan bahan bakar.
“Banyak pengunjung yang kami bantu saat motornya pecah ban atau kehabisan bensin. Kami berupaya memberikan pelayanan semaksimal mungkin,” tambahnya.










