Rejangnews.com || Lebong – Rencana pembukaan konektifitas baru atau jalan lintas Provinsi di Kabupaten Lebong, bukanlah hal baru. Bahkan, wacana pembangunan jalan tersebut sudah berlangsung sejak lama, tepatnya sejak tahun 2012

Informasi terhimpun, antaranya, jalan Lebong menuju Merangin, Jambi dan Lebong menuju Desa Sungai Keradak, Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun.

Sebagai penunjang, wacana itu dimulai dari peningkatan beberapa jalan lokal. Seperti, peningkatan jalan Uram Jaya-Turan Lalang hingga Talang Ulu menuju Danau Liang yang digadang-gadang sebagai konektivitas antar kabupaten melalui pengembangan jalan baru lintas tengah di Provinsi Bengkulu.

Dengan kondisi keuangan Lebong yang terbatas dan kawasan Lebong yang dikelilingi hutan lindung tentunya rencana pembangunan konektivitas baru tersebut perlu dukungan dari sektor anggaran hingga pihak terkait.

Menanggapi hal tersebut Plt Kadis Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPR-P) Kabupaten Lebong, Joni Prawinata melalui Kabid Bina Marga Haris Santoso saat dikonfirmasi tak menepis perencanaan yang sudah berlangsung sejak tahun 2012 silam tersebut.

“Tentu kita butuh dukungan semua pihak. Seperti kolaborasi dengan unsur DPRD Lebong hingga yudikatif,” ujar Toso, Senin (07/03/2022).

Dia mengutarakan, seperti wacana pembangunan poros tengah yang ditandatangani antar daerah di Provinsi Bengkulu, empat Bupati tandatangani nota kesepahaman pada tahun 2018 lalu. Mereka adalah Bupati Lebong, Bupati Rejang Lebong, Bupati Kepahiang dan Bupati Bengkulu Tengah.

Salah satu jalur yang diwacanakan sebagai poros tengah mulai dari titik Kelurahan Tanjung Agung-Danau Liang-PGE Hulu Lais, Kecamatan Rimbo Pengadang.

Perencanaan dari tahun 2012 tersebut disepakati oleh 4 kabupaten yang akan menjadi jalan poros tengah, yaitu jalan penghubung Lebong – Rejang Lebong – Kepahiang – Benteng dan Kota Bengkulu.

Namun, dengan kondisi medan yang sulit, tentunya membutuhkan anggaran yang besar hingga perlu mengantongi izin dari pihak terkait. Mengingat kawasan tersebut masih dalam kawasan hutan lindung. Meskipun sempat mangkrak, akhirnya dilanjutkan lagi pelaksanaannya di tahun anggaran 2016 dan an dilanjutkan lagi tahun 2020 dan 2021.

Dia tidak menampik, saat ini Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang jalan Lebong dengan nilai Rp 28 Miliar tertinggi di Bengkulu. Akan tetapi, ia menyebutkan pagu anggaran itu lebih difokuskan pada penanganan jalan utama yang biasa dilewati masyarakat setempat.

Tantangan butuh nya anggaran yang tidak sedikit untuk merealisasikan jalan tersebut dan ada 5 titik. Jembatan yang harus dibangun serta membutuhkan anggaran sampai dengan 200 miliar.

Ia berharap, semua pihak dapat bekerjasama dalam menjemput anggaran pusat untuk pembukaan konektifitas baru. Baik pembukaan konektivitas antar kabupaten maupun antar provinsi.

Kajian teknis jalan ini akan tetap dibangun program pengembangan wilayah untuk jangka panjang dan mempersingkat jarak tempuh dari Lebong-Bengkulu. Mengingat lebong lumbung energi. Daerah tujuan wisata dan lumbung pangan.

Lebih jauh, ia menegaskan, tetap menyambut baik aspirasi masyarakat maupun pihak terkait terkait rencana penuntasan jalan poros tengah tersebut. Apalagi selaku putra daerah, tentunya kita ingin yang terbaik. Tapi, semuanya ada tahapan yang harus dilalui bersama.

Ia meminta semua pihak tidak terpancing. Ia menyebutkan, pembangunan Kelurahan Tanjung Agung, Kecamatan Pelabai menuju Nangai Tayau Kecamatan Amen, yang tuntas dikerjakan tahun 2021 lalu sudah sesuai dengan pagu anggaran. Tidak ada pengalihan jalan seperti yang beredar selama ini.

“Tidak ada pengalihan. Proyek ini merupakan lanjutan dari link pembangunan jalan segmen Tanjung Agung-Danau Liang, yang sudah dibangun sejak periode Bupati Lebong, Rosjonsyah. Bahkan, digadang-gadang menjadi jalan poros tengah,” demikian Toso. (Snd)

Tinggalkan Balasan