Memang tidak dipungkiri juga bahwa, setiap masing-masing jati diri kader ada yang ingin terjun taktis pada salah satu Parpol dan bahkan ia terang-terangan berpihak masuk kedalam tataran birokrasi Parpol yang ada di Republik ini. Namun sejatinya saran penulis, boleh silahkan berpartai politik, tapi tolong lepaskan atribut organisasi KAMMI agar dimata publik marwah organisasi ‘KAMMI’ ini tetap terjaga marwah Independensinya dan memiliki harga diri yang jauh lebih mahal serta dipandang kokoh baik dalam persatuan, kesatuan dan profesionalitas sebagai aktivis Mahasiswa yang tetap menjunjung tinggi esensi peradaban bangsa dan karakter mentalitas anak bangsa yang tidak mudah ditunggangi oleh sebuah Parpol manapun itu.
Realita hari ini, berangkat dari study pengamatan penulis di lapangan bahwa banyak Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) terkotak-kotak bahkan terpecah belah lantaran berpihak pada sebuah Parpol (Partai Politik) yang terdapat di Republik ini. Jika penulis boleh jujur, ada Alumni KAMMI yang berjibaku di Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ada juga di perahu Partai Amanat Nasional (PAN) dan terakhir ada juga yang mempelopori dan mencoba membesarkan perahu Parpol baru bernama GELORA (Gelombang Rakyat) Indonesia.






