Selain itu, kondisi fisik pekerjaan juga menuai kritik. Secara visual, kualitas hotmix dinilai buruk, di antaranya mudah dicongkel dengan tangan, permukaan jalan bergelombang, hingga ketebalan aspal yang diragukan tidak sesuai spesifikasi teknis.
Ketua Komisi III DPRD Rejang Lebong, Rizal Tahsin, menegaskan bahwa temuan di lapangan tidak bisa diterima begitu saja. Ia mempertanyakan proses kualifikasi, termasuk kesiapan peralatan, lokasi AMP, hingga verifikasi faktual perusahaan.
“Ada temuan yang tidak bisa kami terima. Penyedia berdomisili di Medan, AMP jauh, sementara secara aturan kualifikasi harus jelas dan diverifikasi secara faktual,” tegas Rizal.
Anggota Komisi III lainnya, Anton Doriska, bahkan meminta agar pekerjaan di Jalan Ade Irma Pasar Atas dibongkar ulang dan dikerjakan kembali.
“Saya minta sekitar 200 meter jalan hotmix di pasar atas dibongkar ulang. Padatkan kembali dan aspal ulang,” ujarnya.
Sejumlah anggota dewan juga menyoroti keluhan masyarakat. Beni, anggota Komisi III, menyampaikan bahwa warga banyak mempertanyakan kualitas jalan hotmix, khususnya di Desa Lubuk Alai, yang hotmix-nya dinilai bisa dibuka seperti karpet.










