“Uang yang terkumpul sebanyak Rp26 juta. Kami gunakan untuk membeli besi dan kebutuhan lainnya sebagai landasan lantai jembatan,” kata Sapton.
Sekitar 170 warga terlibat langsung dalam pekerjaan tersebut. Mereka bergotong royong mengangkut material, memasang rangka besi hingga melakukan pengelasan di atas jembatan.
Jembatan Sungai Linggar memiliki panjang sekitar 20 meter dengan lebar empat meter. Sebelumnya, lantainya masih menggunakan papan kayu yang harus diperbaiki secara berkala karena mudah lapuk. Kini, lantai jembatan diganti menggunakan konstruksi besi yang dinilai lebih kokoh dan memiliki umur pakai lebih panjang.
Bagi masyarakat, Jembatan Sungai Linggar bukan sekadar infrastruktur penghubung antardesa. Jembatan tersebut menjadi jalur utama menuju lahan perkebunan sekaligus akses vital bagi aktivitas ekonomi warga setiap hari.
Perbaikan secara swadaya ini juga memperlihatkan kenyataan bahwa masyarakat harus mengambil alih pekerjaan yang semestinya mendapat perhatian pemerintah.
Sapton mengaku masyarakat berharap pemerintah daerah, terutama instansi yang membidangi infrastruktur, dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi jembatan tersebut.










