banner bpkd 2024-rejangnews
DEMA IAIN Curup Kecam Aksi Penganiayaan Terhadap Guru di Rejang Lebong

DEMA IAIN Curup Kecam Aksi Penganiayaan Terhadap Guru di Rejang Lebong

Rejangnews.com || Rejang Lebong – Dewan Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup ikut mengecam aksi penganiayaan terhadap salah satu guru di kabupaten Rejang Lebong, persisnya guru SMAN 7 RL yang dianiaya (di-ketapel matanya.red) oleh salah satu wali murid, lantaran tidak terima anaknya ditegur saat merokok, Parahnya sang guru terpaksa dilarikan ke RS AR Bunda Kota Lubuklinggau guna menjalani operasi, Selasa (01/08/2023).

Disampaikan Presiden Mahasiswa (Presma) IAIN Curup, M Dio Putra pada Renangnews.com. Mahasiswa yang memiliki fungsi sebagai kontrol sosial tentunya sangat prihatin atas peristiwa tersebut.

“Kami DEMA IAIN CURUP mengecam keras segala bentuk tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap guru. Kami berharap adanya tindakan tegas dari pihak penegak hukum, guna memberikan efek jera, sehingga tidak terjadi peristiwa serupa,” tegas Dio.

Selain itu, kepada Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, terkhusus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan RL untuk mencari solusi atau jalan terbaik untuk mengantisipasi terjadinya peristiwa penganiayaan terhadap guru.

Menurut Dio, elemen terpenting dalam lembaga pendidikan adalah hubungan antara guru dan siswa, karena peran guru sangat penting dalam membentuk karakter siswa dan meng-internalisasikan nilai-nilai etika, moral, dan akhlak.

Guru di sekolah selain bertugas untuk mengajarkan materi pelajaran, juga memiliki peran yang hampir sama dengan orang tua, yaitu mendidik untuk menjadi pribadi yang baik. Sehingga dalam menjalankan perannya tersebut, guru dituntut untuk mengayomi semua siswanya.

Sebagai negara yang diakui oleh negara lain akan budaya sopan santunnya seakan mulai tergerus akan fakta-fakta yang terjadi. Karena, dalam beberapa tahun terakhir budaya keramahan dan sopan santun tersebut mengalami degradasi. Demikian dapat dilihat dari beberapa berita di negeri ini, tidak sedikit para generasi muda atau siswa yang cenderung kehilangan etika dan sopan santun terhadap guru, bahkan terhadap orang tua.

Karena, di berbagai peristiwa, para peserta didik tidak lagi menganggap guru sebagai panutan, seorang yang memberikan ilmu dan pengetahuan, yang semestinya dihormati dan dipatuhi.

Perselisihan antara guru dan siswa memang kerap terjadi, mayoritas adalah perselisihan terjadi karena orang tua tidak terima terhadap tindakan guru dalam memberikan peringatan dan teguran pada siswa, yang cenderung membuat siswa memiliki rasa aman terhadap dirinya sehingga membuat tindakan-tindakan yang dilarang oleh gurunya.

Dan salah satu indikator yang membuat fenomena ini terus terjadi adalah akibat sistem pendidikan di Indonesia mengabaikan pendidikan perilaku dan karakter, karena pendidikan di Indonesia lebih banyak menekankan pada aspek kognitif, sementara aspek sopan santun cenderung dilupakan.

“Artinya atas peristiwa yang sangat memprihatinkan tersebut, problematika pada lembaga pendidikan masih menjadi momok mengerikan terhadap keberlanjutan pendidikan yang sehat ataupun normal, terkhusus di bidang kesejahteraan pendidikan karena masih terdapat kekerasan pada lembaga pendidikan baik terhadap guru maupun siswa,” pungkas aktivis HMI ini. (Ade)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top