Menariknya, para peserta tampil menggunakan dua bahasa daerah, yakni bahasa Rejang dan bahasa Lembak, sesuai dengan mayoritas etnis di lingkungan masing-masing. Hal ini turut menjadi salah satu unsur penilaian juri.
Menurut panitia, kriteria penilaian meliputi: Sastra bahasa, Kesesuaian seragam, Kekompakan kelompok, Tata krama (adab), Susunan berasan (sajian adat) dan Nilai busana tradisional.
Lomba digelar selama tiga hari, dengan lima kelompok tampil setiap harinya.
Sementara itu, mewakili Bupati Rejang Lebong, Asisten I Sekda Rejang Lebong, Pranoto Majid, menjelaskan bahwa kegiatan ini sempat direncanakan untuk ditiadakan karena penyesuaian anggaran pusat.

“Namun karena adanya aspirasi masyarakat yang begitu kuat, Bupati akhirnya memutuskan agar lomba ini tetap dilaksanakan, meskipun dengan anggaran yang terbatas. Semangatnya adalah melestarikan adat Rejang,” jelas Pranoto.










