Ia juga menyebut adanya praktik arogan di lingkungan sekolah. “Kami pernah disuruh bersihkan WC, PTT disuruh merumput dan jaga malam. GTT bahkan dijadikan kepala jurusan, padahal tidak sesuai.”
Guru honorer lainnya, Herlina Julianti, mengungkap honor mengajarnya sejak Agustus 2024 hingga Februari 2025 belum dibayar. “Padahal saat itu belum ada edaran gubernur,” ujarnya.
Beberapa guru juga mengaku pernah dimarahi di depan umum dan mendapat ancaman terkait sertifikasi.
Bahkan, menurut Alexander, dirinya dan beberapa guru sempat dilaporkan ke polisi tanpa pemanggilan terlebih dulu. “Saya bahkan dituduh memprovokasi siswa untuk melaporkan persoalan pemotongan PIP ke Pengawas, padahal saya tidak hadir dalam pertemuan itu,” katanya.
Alexander juga mempertanyakan keabsahan status Agustinus sebagai kepala sekolah. “Beliau tidak memiliki SK Cakep maupun sertifikat kepemimpinan,” ujarnya.
Persoalan lain yang disebut adalah WiFi sekolah yang tak dibayar sejak Februari meski anggaran tersedia dalam dana BOS, serta adanya guru yang diminta mundur dari jabatannya tanpa alasan jelas. (Ade)






