Namun, persoalan warga belum sepenuhnya selesai.
Setelah Jembatan Sungai Linggar rampung diperbaiki, papan bekas lantai jembatan akan dimanfaatkan kembali untuk memperbaiki Jembatan Sungai Temam di Desa Tanjung Sanai II. Jembatan itu juga menjadi akses penting bagi masyarakat dari dua desa.
Sapton mengakui Jembatan Sungai Temam berada di luar wilayah administrasi Desa Air Kati sehingga pemerintah desanya memiliki keterbatasan wewenang. Meski demikian, kebutuhan masyarakat membuat mereka tetap berupaya membantu.
“Percuma Jembatan Linggar kami perbaiki kalau Jembatan Temam tetap rusak. Sama saja bohong,” ujarnya.
Ia belum dapat memastikan kapan perbaikan Jembatan Sungai Temam akan dilakukan. Semuanya bergantung pada kesiapan masyarakat ataupun kepedulian pemerintah daerah.
Menurut Sapton, kondisi tersebut menjadi cerminan bahwa warga tidak bisa terus menunggu.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang membangun jembatan ini? Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat harus terus patungan untuk memastikan akses publik tetap bisa digunakan,” pungkasnya. (Ade)










